Jumat, 09 November 2012

Makalah Pernikahan Dibawah Umur


Tuga Kelompok :                                                 Pembimbing:
Sistem Hukum Indonesia                                        Dasrol, S.H, M.H


Pernikahan Dibawah Umur

  
Oleh Keelompok 8 :
DEBY MEILANI
GUSTIA REVNOLIZA
MELISA RAMADHANI
NURSHADRINA
PUTI BUNGSU
SIIS KURNIA
YUNITA ASRIA

ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIALDAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2012


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini saya juga mengucapkan terimakasih kepada orang tua tercinta yang telah memberikan motivasi yang begitu besar serta teman-teman yang telah membantu saya dalam menuntaskan proses penulisan makalah ini.
Dalam makalah ini saya menulis materi System Hukum Indonesia yang berkaitan dengan Kasus Pernikahan dibawah Umur. Karena di negara kita telah banyak terjadi kasus seperti ini. Oleh karena itu penulis ingin berbagi pengetauan yang telah di peroleh berkaitan dengan fenomena yang telah terjadi ini. Makalah ini menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan  definisi, hal-hal yang menyebabkan terjadinya, dampak-dampak yang ditimbulkan, hukum yang mengaturnya, serta conoth kasus yang telah terjadi beberapa waktu belakangan ini.
Untuk itu semoga makalah yang saya buat ini dapat menjadi acuan agar kita menjadi lebih kreatif lagi dalam menghasilkan karya tulis.

                                                                                                                  Pekanbaru, 21 Maret 2012


                                                                                                               Penulis,           



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Fenomena yang terjadi di kebanyakan negara berkembang seperti Indonesia, nikah atau perkawinan tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup umur (dewasa) saja. Dalam UU Perkawinan menyebutkan bahwa batas minimal perkawinan seseorang adalah berusia 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan), namun juga terjadi dikalangan anak dibawah umur, khususnya anak perempuan.Banyak kasus-kasus pernikahan anak perempuan di bawah umur yang terjadi di Indonesia terutama di pedesaan, salah satu contohnya saja seperti pernikahan  dini yang terjadi Ulfa yang waktu itu masih berumur 12 tahun dengan Pujiono yang berusia 46 tahun.
Disisi lain, terjadinya pernikahan anak di bawah umur seringkali terjadi atas dasar beberapa factor, salah satunya seperti factor ekonomi yg mendesak (kemiskinan). Banyak orang tua dari keluarga miskin beranggapan bahwa dengan menikahkan anaknya, meskipun anak yang masih di bawah umur akan mengurangi angka beban ekonomi keluarganya  dan dimungkinkan dapat membantu beban ekonomi keluarga tanpa berpikir panjang akan dampak positif ataupun negatif terjadinya pernikahan anaknya yang masih dibawah umur.
Selain itu, fenomena pernikahan dini juga bukan merupakan hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa.  Hal ini dapat ddibuktikan dengan adanya fakta-fakta yang terjadi pada zaman dulu, yaitu bahwa mbah buyut kita dulu sudah banyak yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan pemikiran buruk di mata masyarakat.  
Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus globalisasi yang terus selalu berkembang, mengubah cara pandang masyarakat pada umumnya. Bahkan bagi  perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu.  Lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, menghambat kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
1.2       Perumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan pernikahan dibawah umur?
2.   Apa factor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dibawah umur ?
3.  Dampak apa saja yang ditimbulkan dengan adanya peristiwa pernikahan dini ini.
4.  Upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan pernikahan dibawah umur tersebut.
1.3       Tujuan Penulisan
1.                   Untuk mengetahui maksud pernikahan dibawah umur.
2.         Untuk mengetahui hal-hal yang menyebabkan terjadinya pernikahan dibawah     umur.
3.                   Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini tersebut.
4.                   Untuk mengetahui upaya-upaya dalam mengatasi kasus tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Arti Pernikahan Dini
            2.1.1 Pernikahan dini secara umum
 pernikahan dini yaitu: merupakan instituisi agung untuk mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. selanjutnya yaitu menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Beliau mengartikan pernikahan dini adalah sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat, sebagai sebuah solusi alternatif. (http://nyna0626.blogspot.com/2008/10/pernikahan-dini-pada-kalangan-remaja-15.html : 28/03/2012, 00:20 WIB)
2.1.2 Pernikahan Dini menurut Negara
Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa  perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun.
Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental. (http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini ; 28/03/2012, 00:24 WIB)
2.1.3 Pernikahan dini menurut agama islam
 Sedangkan Al-Qur'an mengistilahkan ikatan pernikahan dengan "mistaqan ghalizhan", artinya perjanjian kokoh atau agung yang diikat dengan sumpah. Al Qur'an menggunakan istilah mitsaqan ghalizhan minimal dalam tiga konteks. Salah satunya konteks ikatan pernikahan seperti disebutkan dalam Q.S. An-Nisa 4:21.
Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa  agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur.
Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.


2.2  Faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini
 Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya perkawinan dalam usia muda:
1. Menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, sebab-sebab utama dari perkawinan usia muda adalah:
a. Keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga
b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.
c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat. Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat kebiasaan saja.
2. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan oleh:
a. Masalah ekonomi keluarga
b. Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau mengawinkan anak gadisnya.
c. Bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya) (Soekanto, 1992 : 65).
Selain menurut para ahli di atas, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat kita yaitu :
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.
b. Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anaknya yang masih dibawah umur.
c. Faktor orang tua
Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan anaknya.
d. Media massa
Gencarnya ekspose seks di media massa menyebabkan remaja modern kian Permisif terhadap seks.
e. Faktor adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.
Misalnya Sutik perempuan asal Tegaldowo, Rembang Jawa Tengah, pertama kali dijodohkan orangtuanya pada usia 11 tahun. Kuatnya tradisi turun temurun membuatnya tak mampu menolak. Terlebih lagi, Sutik belum mengerti arti sebuah pernikahan. Sutik adalah satu dari sekian banyak perempuan di wilayah Tegaldowo, Rembang, yang dinikahkan karena tradisi yang mengikatnya. Kuatnya tradisi memaksa anak-anak perempuan melakukan pernikahan dini.
Maraknya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan kuat tentang mitos anak perempuan. Seperti diungkapkan Suwandi, pegawai pencatat nikah di Tegaldowo, Rembang Jawa Tengah, ”Adat orang sini kalau punya anak perempuan sudah ada yang ngelamar harus diterima, kalau tidak diterima bisa sampai lama tidak laku-laku”.
2.3     Dampak pernikahan dini (perkawinan di bawah umur)
Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Berita ini menarik perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. Apapun alasannya, perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sbb.:
       A. Dampak terhadap hukum
Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:
1. UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
    Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai
    umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
    Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum
    mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.

2. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
    Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
    a. mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
    b. menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan
        minatnya dan;
    c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
3. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO
         Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut.
         Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak, agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
         Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing Platform of Action, tentang perlindungan terhadap anak perempuan.
         B. Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak.
Dokter spesialis obseteri dan ginekologi dr Deradjat Mucharram Sastraikarta Sp OG yang berpraktek di klinik spesialis Tribrata Polri mengatakan pernikahan pada anak perempuan berusia 9-12 tahun sangat tak lazim dan tidak pada tempatnya. ”Apa alasan ia menikah? Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik maupun psikologis”. Kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan psikologisnya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi, secara mental ia belum siap untuk berhubungan seks.
Ia memanbahkan, kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun psikologisnya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi badan, wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi.
       C. Dampak psikologis
Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.
Menurut psikolog dibidang psikologi anak Rudangta Ariani Sembiring Psi, mengatakan ”sebenarnya banyak efek negatif dari pernikahan dini. Pada saat itu pengantinnya belum siap untuk menghadapi tanggungjawab yang harus diemban seperti orang dewasa. Padahal kalau menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup dewasa dan siap untuk menghadapi permasalahan-permasalan baik ekonami, pasangan, maupun anak. Sementara itu mereka yang menikah dini umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalan secara matang”.
Ditambahkan Rudangta, ”Sebenarnya kalau kematangan psikologis tidak ditentukan batasan usia, karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak kecil. Atau ada juga yang masih muda tapi pikirannya sudah dewasa”. Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari. ” yang namanya mendidik anak itu perlu pendewasaan diri untuk dapat memahami anak. Karena kalau masik kenak-kanakan, maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. Yang ada hanya akan merasa terbebani karena satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus mengurusi keluarganya”.
       D.Dampak sosial
Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender, yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin). Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.

2.4      Upaya  menyikapi terjadinya pernikahan dibawah umur

Pernikahan anak di bawah umur merupakan suatu fenomena sosial yang kerap terjadi khususnya di Indonesia. Fenomena pernikahan anak di bawah umur bila diibaratkan seperti fenomena gunung es, sedikit di permukaan atau yang terekspos dan sangat marak di dasar atau di tengah masyarakat luas. Dalih utama yang digunakan untuk memuluskan jalan melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Namun, dalih seperti ini bisa jadi bermasalah karena masih terdapat banyak pertentangan di kalangan umat muslim tentang kesahihan informasi mengenai pernikahan dibawah umur yang dilakukan Nabi SAW dengan ‘Aisyah r.a. .
      Selain itu peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia   dengan sangat jelas menentang keberadaan pernikahan anak di bawah umur. Jadi tidak ada alas an lagi bagi pihak-pihak tertentu untuk melegalkan tindakan mereka yangberkaitan dengan pernikahan anak di bawah umur. Pemerintah harus berkomitmen serius dalam menegakkan hukum yang berlaku terkait pernikahan anak di bawah umur sehingga pihak-pihak yang ingin melakukan pernikahan dengan anak di bawah umur berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum melakukannya.
Selain itu, pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan UU terkait pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi-sanksinya bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan resiko-resiko terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada masyarakat, diharapkan dengan upaya tersebut, masyarakat tahu dan sadar bahwa pernikahan anak di bawah umur adalah sesuatu yang salah dan harus di hindari.
         Upaya pencegahan pernikahan anak di bawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka.

2.5    Hukum Pernikahan Anak Dibawah Umur Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Yang Berlaku di Indonesia

a.                  UU No. 23 tahun 2002 Pasal 1 tentang perlindungananak
         Definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18
        (delapan belas)
, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Setiap  
            anak mempunyai hak dan kewajiban seperti yang tertuang dalam

b.                  UU No. 23 tahun 2002 Pasal4
       setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh,
             berkembang, dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan
                        harkat dan martabat kemanusiaan,serta mendapat perlindungan dari
                       kekerasan dan diskriminasi,

c.                   Pasal 9 ayat 1
          Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
                    dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya    
                        sesuai dengan minat dan bakatnya,

d.                  Pasal 11
setiap anak berhak untuk beristirahat   dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demipengembangan diri,

e.                   Pasal 13 ayat 1
setiap anak selama dalam pengasuhanorang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab ataspengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan
(a) diskriminasi
(b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
(c) penelantaran
(d) kekejaman,kekerasan, dan penganiayaan
(e) ketidakadilan
(f) perlakuan salah lainnya.

Selain itu orang tua dan keluarganya mempunyai kewajiban dan tanggungjawab terhadap anak seperti yang tertulis di

f.                   UU no. 23 tahun 2002 Pasal 26ayat 1
orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
(a)  mengasuh,memelihara, mendidik, dan melindungi anak
(b)  menumbuhkembangkan anaksesuai dengan kemampuan,
     bakat, dan   minatnya
(c) mencegah terjadinyaperkawinan pada usia anak-anak.

UU pelindungan anak dengan sangat jelas mengatur segala sesuatu yangberkaitan dengan anak, jadi sangatlah mengherankan jika masih banyakpelanggarn yang terjadi terhadap anak dalam konteks ini adalah pernikahananak di bawah umur. Hal seperti ini sangatlah tidak bisa diterima, dimanakahkeberadaan pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi di RI ? Pernikahandi bawah umur sebenarnya kerap kali terjadi di masyarakat khususnya didaerah pedesaan tertinggal dimana kemiskinan dan kebodohan masih menjadimomok yang menakutkan, contohya : salah satu kabupaten di Jawa Baratterkenal dengan pernikahan anak di bawah umur dimana para anak gadis yangmasih lugu sengaja “dijual” orang tuanya untuk melakukan pernikahan dengantujuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

 Hal seperti sangatlahmemilukan, pemerintah acapkali tutup mata dengan kasus pernikahan anak dibawah umur dan baru bertindak jika kasusnya terekspos ke khalayak luas olehmedia seperti yang sempat terjadi beberapa waktu lalu dimana pernikahansyekh Puji dengan Lutfiana Ulfa, gadis yang belum genap berusia 12 tahunterekspos oleh media dan menjadi kontroversi di masyarakat. Pemerintahdiharapkan lebih serius menindak setiap pelanggaran yang berkaitan dengananak dalam konteks ini adalah pernikahan anak di bawah umur. Setiap  pelanggaran terhadap pernikahan anak di bawah umur dapat dikenakan sanksipidana sesuai :


a)                  UU no. 23 tahun 2002 Pasal 77
dengan pidana penjara palinglama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratusjuta rupiah).Selain UU perlindungan anak ada UU alternatif lain yang bisa dijadikanacuan dalam menentang perkawinan anak di bawah umur, yaitu
b)                 UU No. 1tahun 1974 tentang perkawinan       
UU ini menjelaskan syarat-syarat yangwajib dipenuhi calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan, menurut
c)                  UU no.1 tahun 1974 Pasal 6 ayat 1
perkawinan harus didasarkan ataspersetujuan kedua calon mempelai,
d)                 Pasal 6 ayat 2
untuk melangsungkanperkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahunharus mendapat ijin kedua orang tua,
e)                  Pasal 7
perkawinan hanya diijinkanjika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihakwanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. 

2.6    Contoh Kasus Perkawinan Dibwah Umur yang Terjadi di Indonesia
           
Menikah sebelum cukup usia, ternyata masih banyak terjadi di kota maupun di daerah-daerah di Indonesia. Budaya perjodohan bahkan sejak anak perempuan belum lulus SD atau SMP, masih dilakukan  banyak orangtua, terutama yang tinggal di pedesaan.
Dari penelitian yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Rembang, pernikahan dini yang dilakukan anak-anak usia sekolah masih terbilang tinggi. Pada 2006 - 2010, jumlah anak menikah usia dini (menikah di bawah usia 17 tahun) masih meningkat walaupun persentasenya naik turun.

            Pada 2006 jumlahnya 12, 2007 ada 6, 2008 sebanyak 21 anak, 2009 sebanyak 31 anak dan 2010 sampai dengan Juli jumlah anak menikah usia dini sebanyak 28, kata Sekretaris Cabang KPI Rembang, Iin Arinta Fahadiana dalam Diskusi Publik Refleksi Hari Anak Nasional dengan tema 'Perkawinan Anak, Salah Siapa' di Gedung BPPT,Thamrin, Jakarta, kemarin.

            Sementara data lain menunjukkan, ada beberapa penyebab terjadinya pernikahan anak usia dini. DR Sukron Kamil, salah seorang peneliti dari UIN menyatakan, 62 persen wanita menikah karena hamil, 21 persen pernikahan karena ingin memperbaiki ekonomi dan keluar dari kemiskinan dan sisanya karena dipaksa orangtua dan karena status sosial.
Banyak kasus-kasus pernikahan anak perempuan di bawah umur yang terjadi di Indonesia terutama di pedesaan, mungkin, kita masih ingat beberapa tahun lalu dan sampai menjadi konsumsi media nasional adalah pernikahan Ulfa yang waktu itu masih berumur 12 tahun dengan Pujiono yang berusia 46 tahun.
Dalam konteks hak anak, sangatlah jelas seperti yang tercantum dalam pasal 26 ayat 1 butir c UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan di usia anak-anak.
Pada prespektif hak anak pencantuman kalimat tersebut merupakan keharusan yang harus menjadi perhatian bersama, hal ini disebabkan anak-anak yang terpaksa menikah dalam usia yang masih tergolong anak dilihat dari aspek hak anak, mereka akan terampas hak-haknya, seperti hak bermain, hak pendidikan, hak untuk tumbuh berkembang sesuai dengan usianya dan pada akhirnya adanya keterpaksaan untuk menjadi orang dewasa mini.
Disisi lain, terjadinya pernikahan anak di bawah umur seringkali terjadi atas dasar factor ekonomi (kemiskinan). Banyak orang tua dari keluarga miskin beranggapan bahwa dengan menikahkan anaknya, meskipun anak yang masih di bawah umur akan mengurangi beban ekonomi keluarga dan dimungkinkan dapat membantu beban ekonomi keluarga tanpa berpikir akan dampak positif ataupun negatif terjadinya pernikahan anaknya yang masih dibawah umur.
Kondisi ini pada akhirnya memunculkan aspek penyalahgunaan “kekuasaan” atas ekonomi dengan memandang bahwa anak merupakan sebuah property/asset keluarga dan bukan sebuah amanat dari Tuhan yang mempunyai hak-hak atas dirinya sendiri serta yang paling keji adalah menggunakan alasan terminologi agama.
Adanya gambaran fenomena tersebut diatas, beberapa hal yang harus dilakukan dalam memberikan perlindungan anak secara komprehensif adalah: Memberikan pemahaman kepada keluarga dan masyarakat tentang hak-hak anak yang melekat pada diri seorang anak itu sendiri; Memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi sejak anak-anak; Mendorong keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak; Adanya kebijakan negara yang lebih melindungi hak anak terutama dalam peraturan tentang persoalan pernikahan anak di bawah umur.
Satu hal yang juga harus menjadi perhatian bersama adalah mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak dalam memberikan hak pendidikan, hak tumbuh kembang, hak bermain, hak mendapatkan perlindungan dari kekerasan, segala bentuk eksploitasi, dan diskriminasi. Serta yang paling penting adalah menempatkan posisi anak pada dunia anak itu sendiri untuk berkembang sesuai dengan usia perkembangan anak


BAB III
PENUTUP
 3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur lebih bayak mudharat dari pada manfaatnya. Oleh karena itu patut ditentang. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak.
Namun dilain pihak permasalahan pernikahan dini tidak bisa diukur dari sisi agama terutama dari sisi agama Islam.  Karena menurut Agama Islam jika dengan menikah muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan maka menikah adalah alternatif yang terbaik. Namun jika dengan menunda pernikahan sampai usia matang mengandung nilai positif maka hal ini adalah lebih utama.
3.2 Saran
Upaya pencegahan pernikahan anak di bawah umur akansemakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat merupakan jurus terampuhsementara ini untuk mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya diharapkan tidak akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak-anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak.


DAFTAR PUSTAKA
·         (http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini; 28/03/2012, 00:24 WIB)
·         (http://macanbanci.wordpress.com/2010/10/15/pernikahan-dini; 28/03/2012, 00:24 WIB)


Judul: Makalah Pernikahan Dibawah Umur; Ditulis oleh Qaid Minangkabawi; Rating Blog: 5 dari 5

5 komentar:

  1. kamu bisa senaraikan nama desa-desa paling banyak pernikahan dini di jawa barat sekarang? berapa maharnya bagi yang bukan janda?

    BalasHapus
  2. mauk.. pelit banar kada kawa di copy paste (!)
    mending kada usah dipublikasikan !

    BalasHapus
  3. hehe maaf ini blog untuk di baca saja, dan maaf bg Arif, saya belum mengetahui tentang itu.

    BalasHapus
  4. boleh copi ga//

    BalasHapus
  5. pelit apa medit !!!










































    BalasHapus