Jumat, 09 November 2012

Makalah SosBud ttng Masyarakat Multikultural


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau. Indonesia juga negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Indonesia meliliki lebih dari 300 suku bangsa. Dimana setiap suku bangsa memiliki kebudayaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Suku bangsa merupakan bagian dari suatu negara. Dalam setiap suku bangsa terdapat kebudayaan yang berbeda-beda.selain itu masing-masing suku bangsa juga memiliki norma sosial yang mengikat masyarakat di dalamnya agar taat dan melakukan segala yang tertera didalamnya. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki norma-norma sosial yang berbeda-beda.
Dalam hal cara pandang terhadap suatu masalah atau tingkah laku memiliki perbedaan. Ketika terjadi pertentangan antar individu atau masyarakat yang berlatar belakang suku bangsa yang berbeda,mereka akan mengelompok menurut asal-usul daerah dan suku bangsanya (primodialisme). Itu menyebabkan pertentangan atau ketidakseimbangan dalam suatu negara (disintegrasi). Secara umum, kompleksitas masyarakat majemuk tidak hanya ditandai oleh perbedaan-perbedaan horisontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, adat-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capaian yang diperoleh melalui prestasi (achievement). Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam strata sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan kondisi permukiman.

Sedangkan perbedaan horisontal diterima sebagai warisan, yang diketahui kemudian bukan faktor utama dalam insiden kerusuhan sosial yang melibatkan antarsuku. Suku tertentu bukan dilahirkan untuk memusuhi suku lainnya. Bahkan tidak pernah terungkap dalam doktrin ajaran mana pun di Indonesia yang secara absolut menanamkan permusuhan etnik.
Sementara itu, dari perbedaan-perbedaan vertikal, terdapat beberapa hal yang berpotensi sebagai sumber konflik, antara lain perebutan sumberdaya, alat-alat produksi dan akses ekonomi lainnya. Selain itu juga benturan-benturan kepentingan kekuasaan, politik dan ideologi, serta perluasan batas-batas identitas sosial budaya dari sekelompok etnik. Untuk menghindari diperlukan adanya konsolidasi antar masyarakat yang mengalami perbedaan. Tetapi tidak semua bisa teratasi hanya dengan hal tersebut. Untuk menuju integritas nasional yaitu keseimbangan antar suku bangsa diperlukan toleransi antar masyarakat yang berbeda asal-usul kedaerahan. Selain itu faktor sejarah lah yang mempersatukan ratusan suku bangsa ini. Mereka merasa mempunyai nasib dan kenyataan yang sama di masa lalu. Kita mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika. Yaitu walaupun memiliki banyak perbedaan,tetapi memiliki tujuan hidup yang sama. Selain itu, Pancasila sebagai idiologi yang menjadi poros dan tujuan bersama untuk menuju integrasi, kedaulatan dan kemakmuran bersama.

1.2  Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah yang dapat dikemukakan dalam makalah ini adalah :
1.      Definisi Keberagaman atau Masyarakat Multikultural.
2.      Karakteristik Masyarakat Multikultural.
3.      Penyebab Masyarakat Multikultural.
4.      Bentuk Masyarakat Multikultural.
5.      Kasus Keberagaman Masyarakat Multikultural.
6.      Dampak Multikultural di Indonesia.
7.      Upaya Penyetaraan Budaya dalam Masyarakat Multikultural Indonesia.

1.3  Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1.      Untuk menambah bahan bacaan atau referensi bagi pembaca seputar multikultural budaya Indonesia yangmana poin-poinnya tertera diperumusan masalah dalam makalah ini.
2.      Untuk memenuhi tugas perkuliahan di Universitas Riau, pada mata kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Definisi Keberagaman atau Masyarakat Muktikultural.
Menurut para ahli defini keberagaman atau masyarakat multikultural adalah sebagai berikut :
1.      Furnivall
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam suatu satu kesatuan politik.
2.      Clifford.Gertz
Masyarakat multikultural adalah merupakan masyarakat yang terbagi dalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri dan masing-masing sub sistem terkait oleh ikatan-ikatan primordial.
3.      Nasikun
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat bersifat majemuk sejauh masyarakat tersebut secara setruktur memiliki sub-subkebudayaan yang bersifat diverse yang ditandai oleh kurang berkembangnya sistem nilai yang disepakati oleh seluruh anggota masyarakat dan juga sistem nilai dari satu-kesatuan sosial, serta seringnya muncul konflik-konfliksosial.
Jadi, berdasarkan definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beragam budaya yang bersifat diverse serta sering terjadi konflik.
2.2       Karakteristik Masyarakat Mulitkultural
1.   Terjadi segmentasi, yaitu masyarakat yang terbentuk oleh bermacam-macam suku,ras,dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah itu adalah suatu konsep yang di sebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri dari berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negri maupun luar negri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan primordial kedaerahaannya.
2.  Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, maksudnya adalah dalam masyarakat majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam menjalankan atau mengatur masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya persatuan yang terpisah oleh segmen-segmen tertentu.
3. Konsesnsus rendah, maksudnya adalah dalam kelembagaan pastinya perlu adany asuatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama itulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu masyarakat majemuk sulit sekali dalam penganbilan keputusan.
4. Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri dari berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing. Dalam teorinya semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasiannya juga susah.
5. Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.
6. Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain, karena dalam masyarakat multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu maka dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.
2.3       Penyebab Masyarakat Multikultural
Masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural. Penyebab dari munculnya masyarakat multikultural tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor geografis,faktor ini sangat mempengarudi apa dan bagaimana kebiasaan sua tu masyarakat. Maka dalam suatu daera yang memiliki kondisi geografis yang berbeda maka akan terdapat perbedaan dalam masyarakat( multikultural).
2.  Pengaruh budaya asing, mengapa budaya asing menjadi penyebab terjadinya multikultural, karena masyarakat yang sudah mengetahui budaya-budaya asing kemungkinan akan terpengaruh mind set mereka.
3. Kondisi iklim yang berbeda, maksudnya hampir sama denga perbedaan letak geografis suatu daerah.
2.4       Bentuk Masyarakat Multikultural
1. Intraksi
a) Konsep
Interseksi merupakan suatu titik potong atau pertemuan. Dalam sosiologi, interseksi dikenal sebagai suatu golongan etnik yang majemuk.
b) Definisi
Dalam Sosiologi, interseksi adalah persilangan atau pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi. Baik berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial, dan lain-lain dalam suatu masyarakat majemuk. Suatu interseksi terbentuk melalui interaksi sosial atau pergaulan yang intensif dari anggota-anggotanya melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan manusia, antara lain bahasa, kesenian, sarana transportasi, pasar, sekolah.
Dalam memanfaatkan sarana-sarana interseksi sosial itu, anggota masyarakat dari latar belakang ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, atau keturunan berbeda-beda dapat bersama-sama menjadi anggota suatu kelompok sosial tertentu atau menjadi penganut agama tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan interseksi adalah suatu masyarakat yang terdiri dari banyak suku,budaya,agama, dan lain-lain yang berbaur menjadi satu kesatuan di dalam komunitas tertentu.
2. Konsolodasi
a) Konsep
Suatu proses penguatan pemikiran atas kepercayaan yang telah diyakini agar kepercayaan akan sesuatu yang diyakini semakin kuat. Yang mana hal ini dilakukan oleh orang yang lebih mengerti akan kepercayaan yang dianut.
b) Definisi
Konsolidasi adalah suatu proses penguatan yang dilakukan untuk memberikan tambahan keimanan atas apa yang telah seseorang yakini, yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah mencapai tingkatan tertenatu. Jadi, yang dimaksud dengan konsolidasi adalah suatu penguatan atas apa yang telah melekat pada dirinya.
3. Primordialisme
a) Konsep
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
b) Definisi
Primordialisme berasal dari kata bahasa latin primus yang artinya pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan. Ikatan seseorang pada kelompok yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain. Mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya. Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya.
Jadi, suatu primordialisme adalah suatu kepercayaan yang sudah mendarah daging. Maka setiap orang yang memiliki primordial pasti dia akan sulit menerima paham lain selain paham yang telah mendarah daging dalam dirinya.
4. Etnosentrisme
a) Konsep
Etnosentris sangat erat hubungannya dengan apa yang disebut in group feeling (keikut sertaan dalam kelompok) tinggi. Biasanya dalam suatu kelompok sosial sering kita melihat perang antar desa, perang antar suku ataupun perang dalam agama dan sebagainya. Tapi entosentris lebih kepada anggapan suatu kelompok sosial bahwa kelompoknyalah yang paling unggul.
b) Definisi
Dari definisi di atas kita dapat memahami bahwa dalam suatu masyarakat majemuk terdapat suatu kelompok yang beranggapan bahwa kelompoknyalah yang paling unggul dari kelompok-kelompok sosial lain. Jadi, yang dimaksud dengan etnosentris adalah suatu anggapan dari kelompok sosial.

5. Politik Aliran
a) Konsep
Politik aliran adalah suatu kelompok masyarakat yang tergabung dalam ormas-ormas yang memiliki suatu pemersatu berupa partai politik dalam suatu negara, sehingga ormas tersebut dikatakan penganut partai yang memang dijadikan pemersatu dalam negara.
b) Definisi
Politik Aliran adalah suatu organisasi masyarakat yang memiliki dekengan (jawa) untuk memelihara dan menyejahterakan anggotanya. Contoh : Hahdhotul Ulama’ memiliki dekengan berupa Partai Kebangkitan Bangsa(PKB), Muhammadiyyah memiliki dekengan berupa Partai Amanat Nasional(PAN), dll.
Jadi, jelas bahwa politik aliran adalah suatu partai politik yang memiliki suatu dukungan dari suatu organisasi masyarakat sebagai pembangun kekuatan dalam pemilihan umum.
2.5       Kasus Keberagaman di Indonesia
Di antara masyarakat multikultural sering terjadi pernikahan seorang teman yang menyatukan dua kebudayaan yang berbeda, misalnya antara adat Jawa dan Sunda. Dalam sebuah pernikahan adat Jawa yang dihadiri oleh keluarga Sunda, terdapat beberapa perbedaan seperti cara berperilaku, cara bertutur kata, cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan lainnya. Yang Sunda merasa tersinggung dengan sikap Jawa yang tidak berbasa basi, yang Jawa merasa aneh dengan Sunda yang terlalu banyak berbasa basi. Yang Jawa duduk tegap dan berbicara dengan bahasa yang dijaga, yang Sunda duduk santai sambil melontarkan gurauan ke orang tua. Yang Jawa memakai baju muslim, yang Sunda memakai kebaya dan celana jeans. Yang Jawa mengutamakan bibit, bebet, dan bobot, yang Sunda mengutamakan latar belakang materi seseorang. Kata orang Jawa, yang penting cinta dan kasih dari pasangan. Kata orang Sunda, materi itu penting karena perempuan butuh jaminan hidup dan tidak bisa naif hanya bermodalkan cinta.
Kemudian mereka saling mengumpat, "Dasar Jawa!" dan "Dasar Sunda!"
Hanya dua kebudayaan yang menghuni pulau yang sama saja, sudah ada pertengkaran kecil yang membawa nama budaya. Lalu apa kabar Indonesia yang konon katanya punya banyak kebudayaan? Saya teringat dengan beberapa isu etnis yang menjadi topik utama di media, salah satunya Sampit.
Etnik-etnik yang terpisah secara geografis dan sosial-budaya yang berbeda, mempunyai cara dalam mengembangkan pengalaman psikologis masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan identitas etnik masing-masing. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, pulau Jawa yang terdiri dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Solo, dan lainnya) dan Sunda (Priangan, Banten, Cirebon, dan lainnya) serta kelompok kecil seperti Madura dan Betawi saja sudah menimbulkan percekcokan.
Selalu ada prasangka yang diyakini benar dalam menilai orang lain. Ini disebut dengan stereotype. Dimulai dari gambaran seseorang tentang orang lain (personifikasi). Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki sejumlah orang disebut stereotype. Ini adalah konsepsi yang diakui bersama, yaitu ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengubah stereotype tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena ini sifatnya turun temurun dan mengakar di pikiran individu. Dan individu sadar akan hal itu, namun ia menyakini apa yang dipikirkannya itu benar. Apalagi jika orang lain berperilaku seperti stereotype yang ia akui, maka ia merasa dikuatkan. Hanya karena perilaku satu orang, ia menyamaratakan kepada golongannya. Ambil contoh kasus besar yang sudah ada pertumpahan darah seperti kasus Sampit antara Madura dengan Dayak.
Proses saling sangka ini menghambat akulturasi bangsa, yang konon disebut Bhinneka Tunggal Ika (bagi saya, ini konon, karena sekarang sepertinya sudah diragukan keberadaannya). Pemerintahan Indonesia ketika orde baru meneriakkan semangat sama-rata-sama-rasa demi persatuan dan kesatuan. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun pasca reformasi, rupanya slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya isapan jempol belaka karena untuk sebuah kebijakan penyeragaman oleh negara, sebuah sistem kehidupan masyarakat sengaja dipaksa dan diatur. Bahkan untuk penyeragaman, harus ada penduduk yang menjadi korban, dibantai dan kepalanya diarak keliling kota Sampit. Apalagi terkait kasus dengan Madura-Dayak, beberapa sumber mencetuskan bahwa awal mula konflik ini karena transmigrasi yang waktu itu dicanangkan oleh pemerintah agar adanya penyamarataan pembangunan di semua pulau. Sebenarnya konflik etnis sudah ada dari era pemerintahan sebelumnya namun di era reformasi kecenderungan konfliknya lebih meningkat. Setiap konflik etnik pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Ini adalah strategi utama yang diterapkan bagi rezim otoriter.
Pada era reformasi, konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasilpembangunan. Dalam kasus Madura-Dayak, rupanya penduduk Madura lebih unggul satu langkah daripada orang Dayak di sektor informal sehingga menggusur penduduk asli keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya mereka tidak unggul - seperti kriteria Nietzsche bahwa seseorang yang unggul harus memiliki kecerdasan, kekuatan, dan kebanggaan - karena dalam kecerdasan, mereka sama-sama rendah. Rupanya orang Madura yang dahulu menjadi pekerja kasar dan menderita, kini bisa lebih sukses. Ini hampir serupa dengan filsuf yang dikagumi Nietzsche – Schopenhauer – yang mempunyai pandangan ‘Orang bijak menarik hikmah dari kepedihan, bukan dari kesenangan.’ Jika Indonesia melihat ini sebagai permasalahan, tetapi tidak bagi Nietzsche karena menurutnya memang seperti itulah kehidupan yang tidak menentang kodrat alam. Di dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Permasalahan Madura-Dayak bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara, tetapi melalui darah dan baja. Bahkan, mungkin sebelum konflik terjadi, Nietzsche sudah tidak setuju dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika karena menurutnya slogan ini hanya untuk orang-orang yang ingin bersaing, meskipun meminta perlindungan diatas haknya. Dan slogan ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang agung. Selain itu, kritiknya mengenai kesetaraan adalah konsep ciptaan manusia yang palsu dan ujung-ujungnya merusak itu benar karena pasca reformasi banyak bermunculan konflik etnis seperti Ambon dan Poso.
Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka pertahankan. Mengikuti teori Nietzsche, jika orang Dayak sungguh-sungguh hendak menjadi pencipta, haruslah lebih dahulu menunjukkan keberaniannya untuk memusnahkan nilai-nilai lama. Seseorang harus terlebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempersetankan segala nilai yang sudah mantap karena nilai-nilai lama hanya akan menghalangi untuk mencipta. Tapi, itu menurut pandangan Nietzsche. Jangan salah mengartikan untuk menghalalkan yang namanya peperangan. Entah setuju atau tidak, ini bisa dijadikan pengetahuan. Semoga Bhinneka Tunggal Ika masih tetap ada.

2.6       Dampak Multikultural Indonesia
Kenyataan bahwa kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beraneka ragam. Hal itu dapat menimbulkan beberapa dampak positif dan negatif pada perubahan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Dampak positif itu diantaranya :
1.      Keanekaragaman memberikan ruang bagi masyarakat untuk terbuka dalam menjalin hubungan sosial maupun berbudaya.
2.      Memberkan ikatan dan hubungan antar sesama.
3.      Dapat saling berbagi bersahabat dan menghargai antar setiap budaya, tanpa adanya batasan-batasan karena sebuah perbedaan.
Disamping itu keanekaragaman budaya ini memiliki pengaruh negatif, diantaranya :
1.      Rentan terhadap Konflik. Perbedaan nilai-nilai budaya dan norma dasar akan sulit disesuaikan antara masing-masing agama, akan selalu bertentangan dan ini akan memudahkan munculnya sebuah konflik.
2.      Munculnya sikap etnosentrisme, yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masayarakat dan kebudayaan lain.
3.      Munculnya sikap fanatisme dan ekstrim. Fanatisme atau fanatik adalah suatu keyakinan yang kuat terhadap agama, kebuadayan, kelompok, dll. Ekstrim adalah sangat kuat, keras yang solidaritas terhadap persamaan atau kelompoknya sendiri.


2.7       Upaya Penyetaraan Budaya dalam Masyarakat Multikultural Indonesia.
Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tidak dapat hidup sendiri di dunia ini. Kita membutuhkan kehadiran orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan  hidup. Dalam lingkungan masyarakat tidah hanya  terdapat satu kebudayaan masyarakat, melainkan terdiri dari beragam adat, budaya, agama, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan dan lain sebagainya. Banyaknya perbedaan dalam masyarakat seperti ini biasa disebut dengan multikultural. Masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang terdiri atas banyak struktur kebudayaan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya suku bangsa di Indonesia yang memilki struktur sendiri yang berbeda dengan suku budaya yang lainnya.
Keanekaragaman dalam masyarakat multikultural adalah hal yang tidak bisa dihindari. Apa sajakah contoh dari keanekaragaman itu? Perbedaan agama, suku, bahasa, warna kulit, profesi, pola pokir, kemampuan ekonomi adalah contoh-contoh dari keanekaragaman sosial dalam masyarakat. Tak jarang, keanekaragaman itulah yang membuat konflik diantara kelompok masyarakat tersebut, misalnya perlakuan kelompok masyarakat yang berasal dari suku betawi yang menertawakan cara berbicara orang-orang Jawa dengan logat mereka yang khas (medok), sedangkan mereka yang berasal dari kelompok Jawa merasa tidak dihargai, tersinggung dan sakit hati atas perlakuan orang-orang Betawi. Maka, terjadilah konflik diantara dua kelompok suku yang berbeda tersebut.
Karena sikap kedua suku adat dalam satu lingkungan masyarakat sosial yang tidak saling menghormati dan menghargai, timbullah kerenggangan dan ketidakharmonisan dalam bersosialisasi satu sama lain. Bahkan, mungkin bisa mamicu timbulnya rasa dendam diantara keduanya. Masalah diatas merupakan salah satu contoh dari banyaknya konflik yang terjadi akibat keragaman budaya dimasyarakat (multikultural). Tidak hanya disebabkan oleh ragam budaya yang terdapat disuatu lingkungan masyarakat, perbedaan tingkat ekonomi pun bisa menyebabakan terjadinya konflik antar masyarakat.
Adanya multikultural di lingkungan masyarakat dari perbedaan tingkat ekonomi, misalnya kelompok masyarakat menengah kebawah merasa tidak terima dengan sikap yang ditunjukan oleh masyarakat menengah ke atas yang dianggap meremehkan. Namun sebaliknya, mereka yang menengah ke atas merasa resah dengan tingkah premanisme yang mungkin sering dilakukan masyarakat menengah kebawah
Satu hal yang harus kita pahami adalah perbedaan bukanlah hambatan. Seharusnya kita tidak menyalahkan perbedaan yang ada, karena perbedaan sudah selayaknya terjadi. Tapi salahkanlah mengapa kita tidak bisa menerima perbedaan itu dengan lapang dan ikhlas. Memang sulit untuk menerima begitu banyak perbedaan yang ada dalam kehidupan. Namun, seharusnya kita bisa mengambil banyak pelajaran dari setiap perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, segala bentuk perbedaan bukanlah hambatan untuk kita menjalin persaudaraan.
Dari kedua contoh perbedaan itu, berikut adalah cara untuk menyetarakannya :
1.                     Saling menghargai antarsuku. Jika suku Betawi menganggap bahwa suku jawa memiliki dialek bahasa yang lucu dengan kekhasannya, janganlah menertawakan atau bahkan melecehkan mereka bagaimanapun bentuknya. Apabila suku Jawa menyadari apa yang dilakukan oleh masyrakat suku Betawi, seminimal mungkin tidak akan membuat sakit hati atau dendam yang terpendam.
2.                     Memahami kondisi masing-masing. Mungkin ada yang merasa sakit hati atau tersinggung atas perilaku yang dilakukan oleh tetangga yang berasal dari tingkat ekonomi yang berbeda yang menyakitkan, bahkan seolah ia tidak peduli. Tapi itu semua tergantung pada cara pandang akan perbedaan yang ada.
3.                     Sesulit apapun masalah yang dihadapi berusahalah  untuk tersenyum, meski sulit.
Saling menghargai dan memahami merupakan kunci utama untuk bisa menerima segala perbedaan yang ada di kehidupan kita. Semuanya memang memerlukan pembiasaan untuk bisa menerima perbedaan.

 BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan.
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beragam budaya yang bersifat diverse serta sering terjadi konflik. Karakteristiknya yaitu : Terjadi segmentasi, memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, konsesnsus rendah, relatif potensi ada konflik, integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, dan adanya dominasi politik terhadap kelompok lain.
Faktor yang menyebabkan keberagaman budaya ini adalah faktor geografis, pengaruh budaya asing dan kondisi iklim yang berbeda. Ini juga akan mempengaruhi karakteristik diri seseorang. Perbedaan karakteristik diri yang bawaannya sesuai dengan budayanya masing-masing akan memudahkan konflik terjadi antar individu yang berbeda. Tetapi untuk mengatasi itu semua kita perlu suatu penyetaraan, yaitu : Saling menghargai antarsuku di bidang apapun dan apapun kegiatannya ; memahami kondisi masing-masing (salingmenghargai) ; dan Sesulit apapun masalah yang dihadapi berusahalah  untuk tersenyum, meski sulit.

3.2 Saran
Di Indonesia ini, sering terjadi konflik antar suku tidak hanya di daerah perkotaan tetapi di pedesaanpun tidak kalah seringnya, terkusus untuk daerah Maluku dan Papua. Bagaimanakah Indonesia akan bisa menjadi bangsa yang besar jika masyarakatnya tidak bersatu, sila persatuan hanya angan-angan jika masyarakat selalu konflik. Maka dari itu, saran penulis makalah ini adalah :
1.      Untuk Pemerintah.
-         Sebaiknya pemerintah harus tegas menyikapi dan menyelesaikan permasalahan keberagaman budaya yang sering terjadi ini.
-         Berikan pengetahuan atau sosialisasi tentang makna sebuah bangsa yang besar. Maksudnya adalah pemerintah memberikan pengetahuan tentang persatuan, saling menghargai sesama supaya Negara kita memang benar-benar menjadi sebuah Negara yang sesuai dicita-citakan oleh pendahulu kita.
2.      Untuk setiap Individu (masing-masing budaya).
-         Timbulkan rasa manusia dalam diri ini, sikap terbuka akan budaya yang masuk tetapi jangan lupa filter dulu, karena tidak semua budaya itu membawa dampak positif.
-         Jangan pernah membangga-banggakan darimana kita berasal, karena kita ini adalah makhluk sosial, artinya kitapun membutuhkan bantuan dari budaya lain, kita tidak bisa hidup tentram dengan hasil budaya sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

-          Ranjabar, Jacobus.2006.Sistem Sosial Budaya ( Suatu Pengantar ). Bogor : Ghalia. Indonesia.
-         Azra, Azyumardi, 2007. “Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme Indonesia”,http://www.kongresbud.budpar.go.id.
-         Azra, Azyumardi, 2007. “Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme Indonesia”,
-         Harahap, Ahmad Rivai, 2004. “Multikulturalisme dan Penerapannya dalam pemeliharaan kerukunan Umat Beragama”.
Judul: Makalah SosBud ttng Masyarakat Multikultural; Ditulis oleh Qaid Minangkabawi; Rating Blog: 5 dari 5

3 komentar: