Senin, 05 November 2012

Resume ANTROPOLOGI



BAB1. Ruang Lingkup Antropologi
1.1   Pengertian Antropologi
Istilah antropologi terjadi dari kata antropos dan logos. Kedua kata itu berasal dari bahasa Yunani antropos artinya manusia, logos artinya ilmu atau studi. Jadi antropologi artinya adalah ilmu atau studi tentang manusia, atau jelasnya ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia,baik dari segi hayati maupun dari segi budaya.

1.2  Cabang Ilmu Antropolgi
a. Antropologi Fisik
1. Paleoantrologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia deng
an mengamati ciri-ciri fisik.
b. Antropologi Budaya
1. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal tulisan.
2. Etnolinguistik antrologi adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
4. Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
Di samping itu ada pula cabang ilmu antropologi terapan dan antropologi spesialisasi. Antropology spesialisasi contohnya seperti antropologi politik, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

1.3 Perkembangan Keilmuan Antropologi
Dalam perkembangan ilmu antropologi melewati beberapa fase perkembangan, perkembangan ilmu tersebut antara lain :
-          Fase yang pertama (Sebelum 1800)
Suku-suku bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia, dan Amerika mulai didatangi oleh orang Eropa Barat sejak Abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, dan lama-lama pengaruh dari negara-negara Eropa Barat tersebut mempengaruhi berbagai daerah di muka bumi. Seiring dengan perkembangannya mulai terkumpul suatu himpunan buku tentang suku-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan suku bangsa Indian penduduk pribumi Amerika. Bahan pengetahuan tadi disebut etnografi. Kemudian dalam pandangan orang Eropa timbul tiga macam sikap yang bertentangan dengan bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan orang-orang Indian di Amerika, yaitu :

1. Sebagian orang Eropa memandang bangsa-bangsa tersebut manusia liar, turunan iblis dan sebagainya. Sehingga menimbulkan istilah savages dan primitive.
2. Sebagian orang Eropa memendang bangsa-bangsa tersebut masyarakat yang masih murni, belum kemasukan kejahatan dan keburukan.
3. Sebagian bangsa Eropa tertarik akan adat-istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan suku tersebut, sehingga timbul museum-museum tentang kebudayaan banngsa-banngsa diluar Eropa.
Pada abad ke-19 perhatian terhadap etnografi dari pihak dunia ilmiah menjadi besar.
              
-          Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19)
Muncul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi yang berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Secara singkat masyarakat dan kebudayaan di luar bangsa Eropa berevolusi sangat lambat dalam waktu yang lama dan melaui beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah bentuk-bentuk seperti apa yang ada di Eropa Barat. Sehingga kebudayaan yang ada di luar Eropa disebut primitif. Hal tersebut menjadi tonggak timbulnya ilmu antropologi. Pada fase bekembangan ini pula ilmu antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal dengan tujuan mempelajari masyarakat dengan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat pengertian tentang tingkatan-tingkatan kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah perkembangan kebudayaan manusia.                                                                                                                 
-          Fase ketiga (permulaan abad ke-20)
Sebagian besar dari negara-negar penjajah di Eropa berhasil mencapai kemantapan kekuasaannya di daerah-daerah di luar Eropa. Maka dari itu ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah di luar Eropa menjadi sangat penting. Dalam fase ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan tujuannya tujuannya mempelajari mesyarakat dan kebudayaan suku-suku di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masakini yang komplex.                                                                                
-          Fase keempat (sesudah kira-kira 1930)
Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami perkembangan yang sangat luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh diteliti maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Ada dua perubahan di dunia, antara lain :
1. Timbulnya antipati terhadap kolonialisme setelah perangdunia kedua.
2. Cepat hilangnya bangsa primitif sekitar tahun 1930 dan memang hampir tidak ada di muka bumi.
Sasaran dari penelitian para ahli antropologi sekitar tahun 1930 sudah tidak lagi hanya suku bangsa primitif yang tinggal di luar benua Eropa saja, melainkan sudah beralih pada manusia di daerah pedesaan pada umumnnya

1.4  Tujuan Mempelajari Antropologi
Tujuan ilmu antropologi yang baru dibagi menjadi dua :
-          Tujuan akademikal, yaitu mencapai pengertiaan tentang makhluk manusia pada umumnya.
-          Tujuan paktis, yaitu mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun suku bangsa masyarakat tersebut.



1.5  Metode Ilmiah dalam Penggalian Ilmu Antropologi.
Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana dalam ilmu yang bersangkutan melalui (3) tiga tingkat yaitu 1). Pengumpulan fakta, 2). Penentuan ciri-ciri umum dan sistem, 3). Verifikasi.

1.      Pengumpulan fakta
Untuk antropologi-budaya,pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Dalam kenyataannya aktifitas pengumpulan data terdiri dari beberapa metode, mengobservasi, mencatat, mengolah, dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup. Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu a). Penelitian di lapangan, b). Penelitian di laboratorium, c). Penelitian dalam pustaka. Metode dari tiap-tiap golongan ini mempunyai perbedaan azasi. Dalam penelitian di lapangan, peneliti harus menunggu terjadinya gejala yang menjadi objek observasi itu. Sebaliknya, dalam penelitian di laboratorium gejala yang akan menjadi objek observasi dapat dibuat dan sengaja dibedakan oleh peneliti. Sedangkan, dalam penelitian di perpustakaan gejala yang akan menjadi objek penelitian harus dicari dalam suatu himpunan dari beratus-ratus ribu buku yang beranekawaarna.

2.      Penentuan ciri-ciri umum dan sistem.
Hal ini adalah tingkatan dalam berfikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta dikumpulkan dalam suatu penelitian. Tingkatan dalam berfikir ilmiah menimbulkan metode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang sama, yang umum, dalam anekawarna fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Proses berfikir di sini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dalam fakta-fakta khusus dan konkret ke arah konsep-konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstrak.  Penetuan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta-fakta alam dilakukan dengan cara mencari perumusan-perumusan yang menyatakan berbagai macam hubungan mantap dalam fakta-fakta tadi. Hubungan itu biasanya adalah hubungan konvariabel, artinya jika suatu fakta berubah secara tertentu, maka fakta-fakta yang lain juga ikut berubah, atau hubungan sebab-akibat (artinya suatu fakta menyebabkan timbulnya, berubahnya atau menghilangya suatu fakta yang lain.                                                                               
3.      Verfikasi
Metode-metode untuk melakukan verifikasi atau pengujian dalam kenyataannya terdiri dari cara-cara yang harus memperkuat pengertian yang telah dicapai dalam kenyataan-kenyataan alam atau masyarakat yang hidup. Di sini proses berfikir berjalan secara deduktif (dari perumusan umum berjalanan kea rah perumusan yang khusus). Ilmu antropologi yang mengandung pengetahuan yang lebih banyak berdasarkan pengertian daripada pengetahuan berdasarkan kaidah, mempergunakan metode-metode verifikasi yang bersifat kulitatif. Dengan mempergunakan metode-metode verfikasi yang bersifat kualitatif, ilmu antropologi mencoba memperkuat pengertian dengan menerapkannya ke dalam beberapa kenyataan masyarakat yang hidup, dengan cara mengkhusus dan mendalam. Lawan dari metode kualitatif  yaitu metode kuantitatif mencoba menguji kebenaran dari pengertian dan kaidahnya itu mengumpulkan sebanyaknya fakta mengenai kejadian dan gejala sosial-budaya yang menunjukkan azaz-azaz persamaan.

BAB 2. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
2.1 Pengertian Manusia.
Menurut Erbe Sentanu, Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain.

2.2 Unsur-unsur Manusia
Unsur-unsur yang membangun manusia :
1.       Manusia itu terdiri dari 4 unsur yang saling terkait :
a. Jasad            : Badan kasar manusia yang menempati ruang dan waktu.
b. Hayat          : Mengandung unsur hidup
c. Ruh              : Daya yang bekerja secara spiritual
d. Nafs                        : Pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri

2.       Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu :
a.        ID       : Struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak Nampak.
b.      Ego      : Stuktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringakali disebut sebagai kepribadian "Eksekutif" karena perananya dalam menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat di mengerti oleh orang lain.
c.       SuperEgo        : Struktur kepribadian paling akhir, muncul kira-kira pada usia 5 tahun.

Perasaan rohani yang terdapat pada manusia :
d.      Perasaan intelektual : Perasaan yang berkenan dengan pengetahuan.
e.       Perasaan estelis : Perasaan yang berkenan dengan keindahan.
f.       Perasaan etis : Perasaan yang berkenan dengan kebaikan.
g.      Perasaan diri : Perasaan yang berkenan dengan harga diri.
h.      Perasaan Sosial : Perasaan yang berkenan dengan kelompok atau korp hidup bermasyarakat.
i.        Perasaan religius : Perasaan yang berkenan dengan agama dan kepribadian.

2.3 EVOLUSI MANUSIA DAN STUKTUR TUBUH
Primata
Menurut Caroll(1988) awal mula dari primata purba agak samar-samar. Ada sekelompok binatang-mirip-primata zaman Paleocene yang dinamakan “plesiadapids” yang mungkin merupakan nenek moyang primata, atau sepupu primat.
·         Palaechthon, Purgatorius (pertengahan Paleocene)
plesiadapid yang sangat primitif. Bagi mata moderen tidak terlihat seperti primata sama sekali, hanya bermuka runcing, mamalia purba kecil dengan gigi-gigi primitif, dan dilengkapi cakar dan bukan kuku. Tetapi menunjukkan tanda-tanda pertama gigi seperti-primata; kehilangan satu gigi seri dan satu geraham depan, dan memiliki geraham yang relatif tumpul dan kotak.

  • Cantius (awal Eocene)
Satu dari primata sejati yang pertama (atau “primata dengan aspek modern”), lebih maju dari plesiadapid (lebih sedikit gigi, garis di belakang mata, tangan dan kaki untuk menggenggam) dan mulai menunjukkan adaptasi pada pohon seperti lemur.
  • Pelycodus & spesies yang serupa (awal Eocene) – primata primitif mirip-lemur.

Tarsier, lemur, dan monyet Dunia Baru tercabang di masa Eocene. Garis Dunia Lama berlanjut sebagai berikut:
  • Amphipithecus, Pondaungia (akhir Eocene, Burma)
Primata Dunia Lama yang amat purba dan hanya diketahui melalui pecahan-pecahan. Otak lebih besar, hidung lebih pendek, mata lebih ke depan (pertengahan antara mata plesiadapid dan mata kera modern).
·         Parapithecus (awal Oligocene) – Terpisahnya Monyet OW (Old World - Dunia Lama) dari kera terjadi sekitar masa ini. Parapithecus mungkin berada di awal dari garis monyet OW. Dari sini monyet-monyet OW diteruskan melalui Oreopithecus (awal Miocene, Kenya) hingga kelompok monyet di masa Miocene dan Pliocene.
  • Propliopithecus, Aegyptopithecus (awal Oligocene, Mesir)
Dari masa yang sama dengan Parapithecus, tetapi mungin terletak di awal garis kera. Karakter kera yang pertama adalah rahang yang dalam, 2 geraham depan, 5- gigi cusp, dll.
  • Aegyptopithecus (awal-pertengahan Oligocene, Mesir)
Anthropoid (kera/hominid) yang lebih muda dengan lebih banyak fitur kera. Merupakan pemakan buah, pelari/pemanjat, lebih besar, dengan otak yang lebih bundar dan muka lebih pendek.
  • Proconsul africanus (awal Miocene, Kenya.)
Dimorphic secara seksual, pemakan buah, hidup di pohon secara quadruped (bergerak dengan empat kaki) kemungkinan nenek moyang semua kera muda dan manusia. Memiliki mosaik fitur-fitur primitif seperti kera, siku, bahu dan kaki seperti kera, pergelangan tangan mirip monyet, tulang belakang lumbar mirip kera gibbon.
  • Limnopithecus (awal Miocene, Africa)
Kera muda kemungkinan nenek moyang gibbon.
  • Dryopithecus (pertengahan Miocene)
Kera muda kemungkinan nenek moyang kera besar dan manusia. Pada masa ini Afrika dan Asia terhubung melalui Arabia, dan kera-kera non-gibbon terbagi pada dua garis:

1.      Sivapithecus (termasuk “Gigantopithecus” & “Ramapithecus”, pertengahan Miocene) – Bermigrasi ke Asia dan menjadi orangutan.
2.      Kenyapithecus (pertengahan Miocene, sekitar 16 juta tahun yang lalu) – Tinggal di Afrika dan menurunkan kera besar Afrika dan manusia.
  • Australopithecus ramidus (pertengahan Pliocene, 4.4 Jy)
Hominid purba (atau Simpanse purba) yang baru ditemukan, setelah tercabang dari kera. Kemungkinan berjalan dengan dua kaki (bipedal). Gigi mirip kera dan manusia, satu gigi bayinya sangat mirip simpanse. (White et al., 1994; Wood 1994)
  • Australopithecus afarensis (akhir Pliocene, 3.9 Jy)
Fosil-fosil yang bagus. Bipedal penuh dan jelas merupakan hominid. Tetapi hominid yang sangat mirip kera, hanya empat kaki tingginya, masih memiliki otak sebesar kera yaitu 375-500 cc dan memiliki gigi seperti kera. Garis keturunan ini akhirnya secara bertahap bercabang menjadi keturunan yang besar-berotot dan bergigi besar dan keturunan yang lebih ramping dan bergigi kecil. Keturunan yang besar akhirnya punah.
  • Australopithecus africanus (akhir Pliocene, 3.0 Jy)
Keturunan yang lebih ramping dari A. Afarensis. Tinggi sekitar 5 kaki dengan otak sedikit lebih besar (430-550 cc) dan gigi seri lebih kecil. Gigi secara gradual makin mirip gigi Homo. Homonid ini hampir merupakan bentuk sempurna pertengahan kera-manusia, dan sekarang cukup jelas bahwa australopethicus-australopethicus yang ramping ini yang akhirnya bermuara pada spesies Homo yang pertama.
  • Homo Habilis (akhir Pliocene / awal Pleistocene, 2.5 Jy)
Berada pada batas antara australopethicus dengan manusia, sehingga kadang-kadang dikategorikan sebagai australopethicus. Tinggi sekitar 5 kaki, muka masih primitif tetapi lebih tidak menonjol ke depan, gigi geraham lebih kecil. Otak 500-800 cc, berada di irisan antara bagian bawah australopethicus dan bagian atas Homo erectus awal. Mungkin bisa berkata-kata sederhana? Mampu membuat alat-alat batu sangat sederhana.
  • Homo erectus (termasuk “Manusia Jawa”, “Manusia Peking”, “Manusia Heidelberg”, Pleistocene., 1.8 Jy) – Terlihat lebih manusia sekarang dengan otak 775-1225 cc, tapi masih memiliki tulang alis tebal dan tidak memiliki dagu. Menyebar keluar dari Afrika dan melintasi Eropa dan Asia. Peralatan baik, mampu membuat api.
  • Homo Sapiens purba (Pleistocene, 500ribu tahun yang lalu)
Manusia purba pertama ini merupakan pertengahan sempurna antara homo erectus dengan manusia modern, dengan otak 1200 cc dan tulang tengkorak lebih tipis dan gigi lebih kecil. Dalam masa 300ribu tahun, otak secara gradual membesar, gigi geraham makin mengecil, tulang tengkorak lebih bundar. Jelas keturunan dari Homo erectus, tapi masih diperdebatkan tentang dimana ini terjadi.
  • Satu kelompok sempalan yang terkenal, Neandertal, berkembang di Eropa 125ribu tahun yang lalu. Mereka dianggap sebagai spesies yang sama dengan kita, tetapi dari subspesies yang berbeda, Homo sapiens neandertalensis. Lebih berotot, dengan otak lebih besar yaitu 1450 cc, tulang alis yang jelas, dan bentuk kerongkongan yang berbeda. Diketahui melakukan penguburan pada anggota mereka yang mati.
  • Homo sapiens sapiens (termasuk Cro-magnon, akhir Pleistocene., 40ribu tahun yang lalu)
Semua manusia modern. Rata rata volume otak 1350 cc. Di Eropa, secara perlahan menggantikan posisi Neanderthal.

2.4  Pengertian Kebudayaan
kata budayaan berasal dari bahasa sangsekerta “buddhayah”, jamak dari buddhi yang berarti akal, budi. Dalam antrologi kebudayaan berarti keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

2.5  Unsur-unsur Kebudayaan
unsur-unsur kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia ada 7, yang dapat disebut sebagai isi pokok dari sebuah budaya, yaitu :
1.      Bahasa
2.      Sistem pengetahuan
3.      organisasi sosial
·         Sistem kekerabatan
·         Sistem komunitas
·         Sistem pelapisan sosial
·         Sistempolitik
4.      Sistem peralatan hidup dan tekhnologi
5.      Sistem mata pencaharian hidup
·         Perburuan
·         Pertanian
·         Perternakan
·         Perdagangan
·         Industri
6.      Sistem religi
7.      Kesenian
·         Seni suara
·         Seni rupa
·         Seni drama

2.6  Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga
1.      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.      Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

2.7  Teori Kebudayaan
Teori kebudayaan adalah usaha untuk mengonseptualkan kebermaknaan itu, untuk memahami pertalian antara data dengan manusia dan kelompok manusia yang mewujudkan data itu. Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya dalam kelompok, mempertahankan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supranatural.
Secara garis besar hal yang dibahas dalam teori kebudayaan adalah memandang kebudayaan sebagai, a)Sistem adaptasi terhadap lingkungan. b)Sistem tanda. c) Teks, baik memahami pola-pola perilaku budaya secara analogis dengan wacana tekstual, maupun mengkaji hasil proses interpretasi teks sebagai produk kebudayaan. d) Fenomena yang mempunyai struktur dan fungsi. e) Dipandang dari sudut filsafat. Dalam mengkaji kebudayaan, unit analisa atau obyek dari kajiannya dapat dikategorikan kedalam lima jenis data, yaitu, a) artifak yang digarap dan diolah dari bahan-bahan dalam linglkungan fisik dan hayati. b) perilaku kinetis yang digerakkan oleh otot manusia, c) perilaku verbal yang mewujudkan diri ke dalam dua bentuk. d) tuturan yang terdiri atas bunyi bahasa yang dihasilkan oleh pita suara dan otot-otot dalam rongga mulut. e) teks yang terdiri atas tanda-tanda visual sebagai representasi bunyi bahasa atau perilaku pada umumnya. Baik artifak, teks, maupun periaku manusia memperlihatkan tata susunan atau pola keteraturan tertentu yang dijadikan dasar untuk memperlakukan hal-hal itu sebagai data yang bermakna, karena merupakan hasil kegiatan manusia sebagai mahluk yang terikat pada kelompok atau kolektiva, dan karena keterikatan itu mewujudkan kebermaknaan itu.

2.8  Faktor yang Mempengaruhi Kebudayaan
Faktor pendorong perubahan Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial kebudayaan, yaitu:
1.      Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain. Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya.
2.      Sistem pendidikan formal yang maju. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif.
3.      Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju. Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.
4.      Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
5.      Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat. Open stratifikasion atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
6.      Penduduk yang heterogen. Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial.
7.      Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu Rasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya.
8.      Orientasi ke masa depan Kondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan dengan perubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.N
9.      Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup. Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan.

2.9  Perubahan Kebudayaan
Perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan. Contoh :
Masuknya mekanisme pertanian mengakibatkan hilangnya beberapa jenis teknik pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik “Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi jadi kehilangan pekerjaan.
Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus tergantung dari dinamika masyarakatnya.
Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:
a. Mendorong perubahan kebudayaan.
-          Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material).
-          Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda.
-          Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.
b.      Menghambat perubahan kebudayaan
-          Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah
seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material).
-          Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot.
Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan :
1.      Faktor internal
• Perubahan Demografis
Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, seperti : bidang perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
• Konflik sosial
Konflik sosial dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat. Seperti : konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran.
• Bencana alam
Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan. Seperti : bencana banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun akulturasi.
• Perubahan lingkungan alam
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.
2.      Faktor eksternal.
• Perdagangan
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada.

• Penyebaran agama
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.
• Peperangan
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsur-unsur budaya bangsa asing ke Indonesia.
2.10 Komponen-komponen Kebudayaan
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli atropologi Cateora, yaitu :
1.      Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2.      Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
3.      Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier.
4.      Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
5.      Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, musik, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
6.      Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.

BAB III. Daur Hidup dalam Keluarga
3.1.Pengertian keluarga secara umum dan secara khusus
Secara umum keluarga dapat diartikan sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. Pengertian secara khusus keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti anggota. Jadi, Keluarga adalah lingkungan dimana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
3.2 Ciri-ciri khusus dan umum di dalam keluarga
1) Teori R.M. Iver dan C.H. Page
Menurut Iver dan Page, mengetengahkan karakteristik dan ciri-ciri suatu lembaga disebut sebagai keluarga, yakni sebagai berikut.
a.       Keluarga adalah hubungan batiniah melalui perkawinan.
b.      Lembaga keluarga dibentuk secara disengaja dengan tujuan tertentu.
c.       Memiliki garis keturunan sesuai dengan norma yang berlaku.
d.      Memiliki fungsi ekonomi dalam rangka mencapai kebutuhannya.
e.       Memiliki fungsi reproduksi untuk melanjutkan keturunan dan
membesarkan anak.
f.       Mempunyai tempat tinggal bersama sebagai tempat berkumpulnya
anggota keluarga.
2) Teori Burgess dan Locke
Menurut Burgess dan Locke, mengemukakan empat karakteristik lembaga keluarga, yakni sebagai berikut.
a.       Keluarga merupakan kesatuan orang yang diikat melalui jenjang
perkawinan untuk melanjutkan fungsi reproduksi.
b.      Keluarga memiliki anggota keluarga, yaitu suami, isteri, anak, atau
saudara yang berada dalam satu naungan rumah tangga.
c.       Anggota keluarga memiliki peranan sosial masing-masing sesuai
dengan norma yang berlaku.
d.      Keluarga berfungsi untuk memelihara kebudayaan yang pada
prinsipnya berakar dari masyarakat.
3) Khairudin
Hal senada juga disampaikan oleh Khairudin, bahwa ciri-ciri keluarga adalah sebagai berikut.
a.       Kebersamaan, di antara bentuk-bentuk organisasi sosial yang lain
keluarga merupakan bentuk yang paling universal, yang dapat
ditemukan dalam semua masyarakat.
b.      Dasar-dasar emosional, hal ini didasarkan pada suatu dorongan
yang mendasar, seperti perkawinan, menjadi ayah, dan perhatian orang
tua.
c.       Pengaruh perkembangan, hal ini membentuk karakter individu
melalui pengaruh kebiasaan-kebiasaan organis maupun mental.
d.      Ukuran yang terbatas, keluarga dibatasi oleh kondisi-kondisi
biologi.
e.       Tanggung jawab para anggota, keluarga memiliki tuntutan yang
lebih besar dan kontinu daripada asosiasi-asosiasi yang lainnya.
f.       Aturan kemasyarakatan, masyarakat diatur oleh peraturan yang sah
dan kaku dalam hal yang tahu.
g.      Sifat kesetaraan, keluarga merupakan suatu yang demikian permanen
dan universal dan sebagai asosiasi merupakan organisasi
terkelompok di sekitar keluarga yang menuntut perhatian khusus.
3.3 Kerjasama keluarga dan Negara
a. Kerjasama Instrumental
Kerjasama ini terarah pada tugas tugas. Adapun tugas-tugas keluarga yaitu :
  1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
  2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
  3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
  4. Sosialisasi antar anggota keluarga.
  5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
  6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
  7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
  8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

b. Kerjasama Formatif.
Kerjasama ini terarah pada masing-masing pribadi. Mirip dengan yang pertama, mereka juga bekerjasama, namun tujuan utamanya adalah bertumbuhnya diri pribadi rekan kerja.
3.5 Peranan keluarga dalam pembangunan
  1. Sebagai Pendidik dapat dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  2. Untuk Perlindungan, dapat dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  3. Penumbuh Perasaan, dapat dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  4. Dibidang Agama, dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
  5. Dibidang Ekonomi, dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  6. Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
  7. Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
  8. Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Adapun peranan keluarga dibidang pembangunan yang lain seperti :
1.      Bidang Pemberdayaan Keluarga dan Keswadayaan Masyarakat
2.      Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat
3.      Bidang Ketahanan Pangan
4.      Bidang Pemberdayaan Kawasan Perdesaan.

BAB IV. Antropologi-Psikologi
4.1  Pengertian psikologi
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: Psychē yang berarti jiwa dan logia yang artinya ilmu, sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

4.2  Peranan jiwa dalam Kebudayaan
Peranan jiwa dalam kebudayaan, jiwa sebagai stuktur manusia yang sangat berpengaruh dalam kebudayaan. Jiwa yang sehat dapat mengelolah tindakan-tindakan dan perilaku yang baik sehingga dapat memberikan perubahan kemajuan bagi kebudayaannya. Jiwa berhubungan dengan kebudayaan. Peranan jiwa amat penting dalam kebudayaan. Agar kita memperoleh kebudayaan yang baik dan berharga di depan khalayak ramai.
4.3  Hubungan Antropologi dan Psikologi
Psikologi dan antropologi yaitu ilmu pengertahuan yang sama-sama mempelajari manusia, tingkah laku manusia serta keadaan jiwa dan dimana dia berada.

BAB V.  Individu, Keluarga dan Masyarakat.

5.1 Pengertian individu.
Individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu  menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.

5.2 Hubungan  individu, keluarga dan masyarakat.
Individu merupakan manusia perorangan yang mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Keluarga yaitu kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. Sedangkan masyarakat yaitu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontiniu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Indvidu adalah pembentuk keluarga, sedangkan kumpulan dari individu keluarga adalah membentuk masyarakat. Jadi, Individu, keluarga dan masyarakat berhubungan lurus.
Judul: Resume ANTROPOLOGI ; Ditulis oleh Qaid Minangkabawi; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar