Jumat, 16 November 2012

Teori-Teori Multikultural



Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk menerangkan  situasi masyarakat yang multikultural. Liliweri (2005: 71-80) mengidentifikasi  tujuh tokoh sebagai perintis teori-teori multikultural. Berikut ini akan disampaikan secara ringkas gagasan-gagasan dari teori tersebut.

1. Sokrates
Gagasannya yang dekat dengan makna multikultural adalah tentang self-knowledge. Menurutnya,self-knowledge merupakan mahkota dari pendidikan setiap individu. Pengembangan self-knowledgehanya dapat dilakukan ketika seseorang tengah beranjak dewasa. Pada tahap ini individu dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan keyakinan dan bukan karena faktor emosi atau feeling semata. Kalau self-knowledge individu itu baik, maka dia juga akan menghargai orang lain yang berbeda dengannya. Jadi ada hubungan yang erat antara self-knowledge dengan other-knowledge. Dengan kata lain, jika Anda mau mengerti kebudayaan orang, maka Anda harus mengerti kebudayaan Anda sendiri.

2. Plato
Plato tidak menyebut secara eksplisit, tetapi prinsip-prinsip multikultural telah diperkenalkan dalam sebuah rancangan kurikulum pendidikan liberal arts, yang kualitasnya sepadan dengan dengan kurikulum ilmu atau pendekatan ekonomi maupun politik. Yang dimaksud dengan liberal arts adalah semua bagi semua. Jadi semua orang memiliki kebebasan untuk mengetahui semua hal.
3. Jean Piaget
Piaget yakin bahwa setiap perkembangan individu tidak hanya dalam hal pengetahuan dan kemampuan, tetapi juga kemampuan untuk bersikap empati. Empati adalah persepsi individu tentang kemiripan antara self dan other. Empati harus dipahami sebagai proses untuk membuat perasaan seorang individu menjadi semakin intim dengan perasaan orang lain, yang pada saatnya menumbuhkan sebuah pengertian. Inilah arti penting dari empati, yaitu mencegah prasangka atau sikap yang tidak bersahabat.

4. Horace Kallen
Kallen merupakan orang pertama yang mengkonstruksi teori pluralisme budaya. Menurutnya, jika berbagai kebudayaan yang beragam atau perbedaan yang bervariasi itu dibiarkan hidup dan berkembang dalam suatu bangsa, maka upaya ke arah persatuan nasional telah dilakukan.
Dalam teorinya, Kallen mengungkapkan  bahwa setiap etnik dan kelompok budaya dalam suatu bangsa menjadi penting dan unik karena semua memberi kontribusi terhadap pengayaan kebudayaan.

5. James A. Banks
Banks dikenal sebagai perintis pendidikan multikultural. Menurutnya, bagian terpenting dari pendidikan adalah mengajarkan “bagaimana cara berpikir” dan bukan mengajarkan “apa yang dipikirkan”. Dengan demikian seorang siswa harus menjadi pemikir kritis dengan latar belakang pengetahuan dan keterampilan  ditambah dengan komitmen. Dengan dasar ini seseorang dapat menolong bangsanya keluar dari perbedaan penglihatan antara idealisme dan realitas.
Dalam tulisannya berjudul The Canon Debat: Knowledge Construction and Multicultural Education, Banks mengidentifikasi tiga kelompok terpelajar yang berpartisipasi dalam perdebatan pengetahuan.Pertama, kelompok tradisionalis Barat. Kelompok ini percaya bahwa kebudayaan dominan adalah kebudayaan Barat. Para tradisionalis Barat yakin bahwa sejarah, kebudayaan, kepustakaan telah dikuasai kaum elite dan kemudian mencetak sekelompok pemikir yang mendorong pengakuan masyarakat bahwa pengetahuan dan sains itu elitis. Dalam perkembangannya, kekuasaan kaum elite mulai bergeser karena perkembangan zaman sehingga mendorong lahirnya pemikiran alternatif tentang minoritas, gender, dan feminisme.
Kedua, kelompok yang nenafikan budaya barat secara berlebihan sehingga harus berhati-hati, dan golongan yang ketiga yaitu kelompok multikultural yang percaya bahwa pendidikan harus direformasi agar dapat memberikan perhatian dan pengalaman kepada orang kulit berwarna dan perempuan. Dengan demikian perlu kesetaraan sistem dan kurikulum pendidikan.

6. Bill Martin
Dalam karyanya Multiculturalism: Consumerist or Transformational?, Martin menuangkan gagasannya bahwa semua isu yang berkaitan dengan pengembangan multikulturalisme tumbuh dalam sebuah pertanyaan tentang  perbedaan cara pandang, seperti yang dilakukan oleh para filsuf dan teoritikus sosial. Menurutnya, multikulturalisme merupakan agenda sosial politik, maka harus dimaknai lebih dari sekedar iklan dalam kelompok yang berbeda-beda. Semua haruslah mendekati dengan cara pandang yang sama yakni atas nama kemanusiaan.
Martin juga mengungkapkan bahwa istilah multikulturalisme harus dikonsumsi dan menjadikannya sebagai jaringan kerja. Hanya dengan itulah  multikulturalisme dapat menjadi bagian dari transformasi budaya dan mampu mencegah terjadinya konflik sosial-politik.

7. Martin J. Beck Matustik
Matustik menyampaikan gagasannya bahwa segala bentuk perdebatan yang dilakukan oleh masyarakat Barat berkaitan dengan hukum atau tatanan dari sebuah masyarakat multikultural. Dalam artikelnya Ludic Corporate and Imperial Multicultural: Impostors of Democracy and Cartographers of the New World Order, Matustik mengatakan bahwa kebudayaan, politik, dan perang ekonomi sudah muncul. Teori multikulturalisme meliputi beberapa butir gagasan yang semuanya merujuk pada gagasan liberalisasi Plato yaitu tentang pendidikan dan politik.
Matustik yakin bahwa pencerahan dari sebuah masyarakat multikultural akan dapat tercipta melalui kerja sama dan globalisasi nilai-nilai lokal dalam kerangka multikulturalisme, sebuah tantangan dari kondisi bangsa yang monokultur.

8. Judith M. Green
Menurut Green multikulturalisme tidaklah unik, di hampir semua negara terdapat kondisi multikultural karena mereka mengakomodasi kelompok-kelompok kecil dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Satu hal yang perlu dicatat  bahwa jika suatu kelompok ingin berubah dalam tata kehidupannya dalam masyarakat multikultur, maka yang diperlukan adalah perjuangan, melakukan interaksi dan kerjasama antarbudaya.

Sumber : Browsing mbah Google :D
Judul: Teori-Teori Multikultural; Ditulis oleh Qaid Minangkabawi; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar